Monday, February 11, 2008

Paradigma Menulis Di Internet

Pertanyaan yang sama telah berkali-kali saya lontarkan kepada diri sendiri: Apa motivasi menulis di internet? Seharusnya jawabannya sudah jelas dengan sendirinya, yaitu jawaban yang sama atas pertanyaan, "Apa motivasi menulis"?

Motivasi saya menulis adalah sebagai bagian dari proses berpikir. Saya menulis bukan untuk meyakinkan siapapun, tetapi sebagai bagian dari proses meng-konstruksi pemahaman saya sendiri.

Sudah barang tentu adalah sangat baik jika saya menshare tulisan saya itu untuk dibaca orang lain. Namun, bagi saya, kontribusi yang terbaik  bagi sesama adalah jika saya men-share proses yang saya tujukan bagi diri saya sendiri itu.

Nampaknya saya acapkali melupakan tujuan, visi-misi, yang saya canangkan sendiri itu, dan malah terjebak dalam debat panjang tak berkesudahan yang tidak ada gunanya bagi diri saya sendiri, sehingga akhirnya menjadi tidak berguna bagi siapapun juga.

Karena itu saya perlu sekali lagi menegaskan tujuan semula itu, dan perlu lebih tegas lagi dalam mengendalikan diri.

Beberapa tips:
  • Ingat bahwa tujuan menulis adalah proses konstruksi pemahaman.
  • Menulis bukan karena ingin posting atau publikasi, tetapi posting/atau publikasi karena memiliki tulisan.
  • Jauhi sejauh-jauhnya keterlibatan dalam debat konyol yang tidak ada gunanya.
  • Jika ada yang minta klarifikasi atau bertanya, jawablah dengan baik apa adanya. Jika ada yang mengecam atau mengkritik, abaikan saja.
  • Dengan semangat yang sama: Jauhi sejauh-jauhnya kritik atau kecaman terhadap siapapun.
  • Jika menjumpai tulisan yang menarik, sehingga menjadi titik tolak bagi proses menulis sendiri, maka tanggapilah dengan baik. Lain dari itu, jangan buang waktu membaca atau menanggapi tulisan-tulisan yang tidak ada gunannya.


Logika Debat di Dalam Milis

Ada logika yang sedikit aneh di dalam debat di berbagai milis di internet (ini terutama biasanya berhubungan dengan debat antar agama).

Apapun tema yang sedang dibahas, maka jika ada yang menanggapi dengan serius apalagi bertubi-tubi) maka akan muncul kesimpulan bahwa argumen yang diajukan itu pastilah argumen yang membuat gerah atau memang berbahaya atau berpotensi menggoyahkan.

Itulah justru -menurut mereka- yang menyebabkan munculnya tanggapan yang bersemangat. Tentu saja, argumen yang kliru dan lemah pun bisa menimbulkan tanggapan yang ramai. Tetapi itu dianggap sebagai hal dengan kemungkinan yang sangat kecil, tentu saja karena tidak ada seorang pun yang ingin dianggap mengajukan argumen yang kliru dan lemah.

Sunday, February 10, 2008

Mendengarkan Sains

Dalai lama terkenal sebagai tokoh spiritual yang gemar belajar dan melahap buku-buku sains, termasuk biologi, fisika kuantum, dll.

Sejak tahun 1987, setiap tahun Dalai Lama mengundang 5 ilmuwan terkemuka di dalam bidangnya untuk berbincang-bincang soal riset yang mereka lakukan. Setiap pagi, salah seorang saintis akan duduk santai untuk ngobrol-ngobrol sains dengan beliau. Sejak dialog dimulai, beliau terus aktif bertanya sehingga si ilmuwan dapat menjelaskan risetnya dalam bahasa yang dapat beliau mengerti. Kadang-kadang beliau menyela dengan sedikit komentar tentang prinsip-prinsip ajaran Buddha yang paralel dengan pokok bahasan si ilmuwan itu.

Contoh ini, bersama-sama dengan banyak contoh lain, merupakan contoh yang baik di mana seorang tokoh spiritual mau mendengarkan sains. Seperti halnya banyak tokoh agama Buddha lainnya, Dalai Lama mampu belajar dan mendengarkan sains tanpa harus dibebani dengan hambatan-hambatan dogma agama. Pada saat yang sama, beliau tetap menjaga
pemahaman yang benar terhadap agamanya sendiri.

Menjadi Anggota Milis Yang Santun

Saat ini ada sangat banyak milis di internet, di mana anggotanya asyik
berdebat, saling mengkritik dan menyerang, kadang-kadang secara amat kasar.

Menjadi seorang miliser yang santun bukanlah keharusan, melainkan
merupakan pilihan yang dilakukan secara bebas. Ada beberapa hal penting
tentang tulisan yang santun:

1. Lawan bicara dapat lebih memahami apa yang kita maksud sebab
pikirannya tidak akan diganggu oleh emosi-emosi yang tidak perlu, yang
dapat timbul akibat tulisan yang kurang santun.
2. Membuat tulisan yang santun juga dapat membantu pikiran kita supaya
tidak dikuasai oleh emosi-emosi yang tidak perlu, yang pada gilirannya
akan menghambat proses kreatif kita sendiri.
3. Tulisan yang santun juga merupakan pernyataan sikap, yaitu bahwa
perilaku kita tidak dikendalikan oleh cara menulis lawan bicara kita.
4. Kalimat-kalimat yang tidak santun acapkali hanyalah sekadar
smokescreen yang mengaburkan kenyataan bahwa tulisan ybs. sebenarnya
tidak mempunyai argumen yang kuat. Jadi perhatian pembaca dialihkan pada
ungkapan-ungkapan olok-olok, caci-maki, dsb sehingga tidak menyadari
kelemahan esensi argumennya.
5. Tulisan yang santun juga membantu kita untuk tetap dijalur
pembahasan, dan tidak keluar jalur karena disibukkan oleh
persoalan-persoalan emosional.

Monday, November 27, 2006

Logika Sederhana

Istilah "Logika Sederhana" bukanlah istilah resmi formal akademis. Bukan istilah dari logika formal, filsafat, atau sains. Istilah ini cuma istilah dalam bahasa sehari-hari saja.

Seperti pada umumnya istilah bahasa sehari-hari, istilah ini bisa ditarik-ulur, bisa memanjang, bisa mengkerut. Namun setidaknya ada dua hal yang kira-kira bisa dipahami oleh orang banyak, yaitu: (1) Logika, dan (2) Sederhana.

Menurut definisi saya (yang jelas bukan berasal dari definisi resmi), "logika" hanyalah berarti: usaha mencapai suatu pemahaman (atau kesimpulan) baru dengan cara mencari hubungan atau relasi antara hal-hal yang sudah diketahui. Sedangkan "sederhana" berarti bahwa saya mulai dari hal-hal yang memang sudah jelas dengan sendirinya, dan mempunyai kaitan atau relasi antara satu dengan lainnya, yang juga sudah jelas dengan sendirinya.

"Sederhana", juga berarti "tidak ruwet". Yang artinya hanyalah bahwa saya berurusan dengan sejumlah kecil hal-hal, dengan jumlah relasi yang juga sedikit. Ini juga berarti bahwa saya berurusan dengan hal-hal yang memang dekat satu sama lain. Sebaliknya, "ruwet" berarti bahwa saya berurusan dengan banyak hal, dengan banyak relasi satu sama lain yang simpang siur, ditambah lagi, saya mencoba mencari hubungan antara hal-hal yang jauh jaraknya satu sama lain.

Saya teringat ungkapan: "Jalan kebenaran sangat panjang, tetapi harus ditempuh selangkah demi selangkah". Ini sangat saya setujui. Selangkah demi selangkah, dan bukannya meloncat sepuluh langkah, seribu langkah, apalagi meloncat ke ujung jalan. Ini tentu saja menuntut kesabaran. Dan memang, logika sederhana hanyalah untuk orang-orang yang sabar.